Langsung ke konten utama

Postingan

Bag 1.2

Aku diam melamun duduk di meja nomor tujuh. Sekarang aku berada di sebuah restoran untuk makan siang. Aku masih belum menemukan kado untuk putraku. Menjadi single perent ternyata cukup rumit juga. Seandainya aku bisa merubah masa lalu… Tiba-tiba kurasakan bahwa pengawalku menyentuh tanganku yang berada di atas meja. Dia tenyata memperhatikanku dari tadi melamun tanpa sebab. Kedua alisnya bertaut tanda penasaran. Kulihat dirinya dengan tanpa ekspresi dan saat itu juga ia menarik tangannya kembali. “Ada apa?” tanyanya akhirnya. Aku diam sebentar. “Masa lalu,” kataku pelan lalu aku menyeruput minumanku. Aku merasa bodoh karena menjawabnya dengan jujur. Kulihat dirinya kembali dan syukurlah dia tidak memperhatikan diriku lagi. Aku sedikit lega aku bisa bergalau sendirian tanpa ada orang lain lagi. “Hei,” dia memanggilku. “jangan diingat lagi.” Terusnya. Aku lupa bahwa dia mengetahui itu—memang tahu. “Aku selalu mengingatnya jika aku mengingat anak-anakku.” Jawabku. Tiba-tiba ...

Bag 1

Hari ini salju sudah turun. Halaman rumah juga sudah dipenuhi oleh putihnya salju, ditambah hawa dingin yang sudah menyerbu dihari sebelumnya. Penghangat ruanganpun kuhidupkan di sebuah ruangan keluarga yang sepi. Di dalamnya hanya terdapat aku yang sedang duduk sendirian sambil membaca sebuah buku resep. Ditangan kananku terdapat sebuah pulpen tinta hitam yang akan kugunakan untuk menulis. Lalu setelah aku menemukan sesuatu yang menarik dalam buku resep, aku mencatatnya pada sebuah buku catatan resep yang kuno pada tahun ini. Kini kecanggihan teknologilah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja pulpen tinta dan buku catatan sudah tidak ada yang menjual. Lagi-lagi aku menekankan pulpen diatas buku catatanku. Tulisanku masih rapi seperti masa remajaku dahulu. Jujur, aku sangat menyukai tulisanku sendiri sampai sekarang ini. Pintu ruang keluarga terbuka. Seorang lelaki muncul di baliknya lalu berjalan mendekatiku. Lelaki itu berdiri di sisi sofa. “Ada apa?” tanyaku ...

Daisy (Ending Kyoukai no Kanata)

Daisy (ending Kyoukai no Kanata) by : Stereo Dive Foundation Kanji 静寂を切り裂くよう訪れたのは 必然としての邂逅僕らのために 後悔を嘆く瞳に映る君の像 憂いを纏って美しく咲いた 誰かの生命に 溶ける花 ねぇ 君にも見えるだろう きっと 重ねた過ち塗り替えよう 何度でもいいさ 繰り返してくスタートライン 過去とは違う明日を 二人だけの希望描くスタートライン I never say good bye いつだってそうさ 継続してく証明としての結晶 ほのかに揺れる火を宿して 光彩を放つ未来焼き付けた 君の目は少し悲しそうで take out look into my eyes 最後の一滴を拭って every time you wanna think call me 最初に出会ったあの場所でさ 散りゆく運命に抗って そう 鮮やかに咲き誇れ always 君の歌う声へと繋がるよう 心の奥鳴り響いた僕の音 祈りに浮かぶ明日を 生きる意味を希望に変えるから I wanna to be with you 二度とは無い今の現実を 手に入れるための犠牲なんて消して 孤独と決別しきれない 今の僕になんかなれない それでもいいんだ 響き渡れ祈りよ こだまする僕らの歌声 一瞬の光を描いた 照らし出す一輪の花よ 君と二人で手を繋いで ずっと居たいんだ 重ねた過ち塗り替えよう 何度でもいいさ 繰り返してくスタートライン 過去とは違う明日を 二人だけの希望描くスタートライン I never say good bye いつだってそうさ Romaji Seijaku wa kirisaku you otozureta no wa Hitsuzen to shite no kaigou bokura no tame ni Koukai wa nageku me ni Utsuru kimi no zou Urei wo matotte utsukushiku saita Dareka no seimei ni tokeru hana Nee kimi ni mo mieru darou Kitto... Kasaneta ayamachi nurikaeyou Nando demo ii sa...

Waktu

Suara hantaman antara garpu dan piring terdengar disaat makan siangnya. Ia sendirian kali ini karena semuanya sedang sibuk bekerja. Orang-orang terdekatnya semuanya sangat sibuk termasuk dirinya yang sebenarnya juga sedang sibuk. Tapi, hari ini ia mendapat hari libur karena Hari Minggu. Seharusnya ini adalah hari bersenang-senangnya sebagai melepaskan kepenatannya dari bekerja. Lagi-lagi ia memukul piring dengan garpu saladnya, selembar selada menjadi robek karenanya. Dengan semua kebosanannya akan kesendirian dirinya, ia membuat keributan di sebuah café milik Denico. Biarlah, pikirnya. Lagipula pemiliknya sedang tidak ada di sana. Dia sedang pergi sangat jauh dari tempat itu, jika diperkirakan dia akan pulang besok. Sunyi. Itu katanya di dalam hati. Sepi. Tidak berguna. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua keadaan ini. Sebelum lama sekali ia selalu terbiasa akan kesendirian ini tapi sekarang kutukan itu lenyap di hidupnya—bukan sekarang tapi satu setengah tahun yang lalu. K...

Teman

Kedua matanya tertutup untuk menikmati sesuatu yang sangat berharga baginya. Semuanya adalah berkat orang itu, seorang laki-laki yang tampan dengan paras yang ceria itu. Semuanya terasa sangat sempurna di hidupnya. Tak disadari, ia mengingat kata-kata orang itu. Kata-kata yang dimana dapat mengubah segalanya. “Maukah kau menjadi temanku?” kata-kata itu terdengar di telinganya. Tangannya yang berwarna pucat mulai mengusap air mata yang terus menetes karena ketakutan dengan orang itu. Ini membuatnya merasa aneh. Orang itu ternyata sangat ramah dan baik. Ia tidak mengetahuinya bahwa orang itu sangatlah baik dan ia juga sadar bahwa orang itu telah menyelamatkannya dari sebuah bahaya. Kedua tangannya yang bergetar mulai untuk menegarkan diri dengan menenangkannya. Ia terus meyakinkan dirinya di dalam hatinya bahwa orang itu tidak jahat. Orang itu telah menolongnya. Maka dengan menatapnya dengan tatapan sayunya, ia mulai berkata, “kita baru saja bertemu.” Suaranya terdengar bergetar...

Mision Part 2

Semuanya berubah, disaat mereka sampai di rumah Calvin. Ia merasa sangat menyesal karena apa yang ia buat sendiri. Ia membuat kekasihnya ketakutan setengah mati ditambah bahwa kekasihnya sekarang marah kepadanya. Tidak ada kata takut lagi kali ini. Melainkan kekesalan, emosi, dan penyesalan merajalela di dalam tubuh mereka. Kini, Calvin sedang memperbaiki hubungannya. “Aku benar-benar minta maaf soal itu.” Kata Calvin meminta maaf. “Kau ngomong memang enak,” kini Alicia melipat kedua tangannya, “kau menghancurkan jipku di depan mataku. Ya Tuhan… mengapa aku memiliki dia.” “Aku akan—“ “Kau diam, Calvin!” Putus seorang wanita yang sekarang duduk di depan mereka berdua. “Kau benar-benar memalukan sekali.” “Ma…” “Diam kau sekarang!” Kini wanita itu menatap gadis di depannya. “Maafkan kami, Alicia. Aku sungguh menyesali hal ini.” Kata wanita itu lembut. “Tidak apa-apa Mrs. Riicon, saya tahu ini bukan salah anda.” Balas Alicia lalu tersenyum. “Kami akan mengganti semua kerug...