Langsung ke konten utama

Teman

Kedua matanya tertutup untuk menikmati sesuatu yang sangat berharga baginya. Semuanya adalah berkat orang itu, seorang laki-laki yang tampan dengan paras yang ceria itu. Semuanya terasa sangat sempurna di hidupnya.
Tak disadari, ia mengingat kata-kata orang itu. Kata-kata yang dimana dapat mengubah segalanya.
“Maukah kau menjadi temanku?” kata-kata itu terdengar di telinganya.
Tangannya yang berwarna pucat mulai mengusap air mata yang terus menetes karena ketakutan dengan orang itu. Ini membuatnya merasa aneh. Orang itu ternyata sangat ramah dan baik. Ia tidak mengetahuinya bahwa orang itu sangatlah baik dan ia juga sadar bahwa orang itu telah menyelamatkannya dari sebuah bahaya.
Kedua tangannya yang bergetar mulai untuk menegarkan diri dengan menenangkannya. Ia terus meyakinkan dirinya di dalam hatinya bahwa orang itu tidak jahat. Orang itu telah menolongnya. Maka dengan menatapnya dengan tatapan sayunya, ia mulai berkata, “kita baru saja bertemu.” Suaranya terdengar bergetar karena merasa ragu dan sedikit takut.
Orang itu tersenyum dengan manisnya sehingga memberikan keyakinan padanya. “memang kita baru saja bertemu. Tapi, bukannya kita bisa berteman?” katanya ramah.
Air matanya menetes lagi. Ditiap tetesnya mengandung sebuah makna yang intinya adalah ia terharu akan semuanya. Kata yang jarang ia dengar kini ia dengar dari laki-laki itu. Kata ‘teman’ telah menyihirnya untuk lebih percaya kepada laki-laki itu.
“Kitaa…” suaranya masih terdengar bergetar “bisa berteman, tapi aku belum pernah berteman.” Terusnya malu.
“Benarkah? Kalau begitu kita sama. Sebelumnya aku juga tidak memiliki teman.” Kata laki-laki itu takjub.
Ia menelan ludahnya dan memandang orang itu dengan tatapan tidak percaya. Orang yang ramah dan baik seperti dia tidak memiliki teman? Atau pendengarannya yang sedang bermasalah? Yang benar saja, ini mirip sebuah lelucon baginya.
“Kau tidak memiliki teman?” tanyanya untuk mengkoreksi pendengarannya.
“Iya,” Jawab laki-laki itu dengan mantab “tidak ada yang mau berteman denganku.” Terusnya tapi nadanya tiba-tiba terdengar murung.
“Mengapa?”
Wajah ceria milik laki-laki itu lenyap seketika. Itu membuatnya menjadi bingung. Apakah ia sudah menyakiti hatinya. Ia merasa bersalah karena telah menyakitinya, selain itu juga ia tidak pernah memiliki teman sehingga ia juga tidak tahu bagaimana cara untuk memperbaikinya. Mungkin ada satu,
“Maaf.” Katanya segera.
Laki-laki itu menatapnya dan tersenyum ceria menandakan bahwa ia baik-baik saja. “Tenang saja, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,” katanya “masalah mengapa aku tidak memiliki teman memang seharusnya kuceritakan kepadamu agar kau mengetahui bagaimana aku.” Terusnya lalu tersenyum lagi.
“…” ia tidak tahu harus berkata apa.
“Alasan mengapa aku tidak memiliki teman adalah, mereka takut kepadaku.” Jawab laki-laki pelan-pelan dan hati-hati.
Takut, adalah perasaan yang ia rasakan tadi setelah melihat laki-laki itu membunuh lima orang preman yang hampir saja membuatnya menjadi bualan mereka. Preman-preman bejat yang ingin merenggut sesuatu yang sangat berharga baginya, tapi laki-laki itu tiba disaat yang tepat. Laki-laki itu menolongnya dan menghabisi preman-preman itu. kini, laki-laki itu menemaninya sejak kejadian pembunuhan tadi dan mengantarkannya sampai di depan rumahnya.
“Aku mengerti,” katanya kemudian. Suaranya kini lebih tegar dari sebelumnya. “aku juga takut denganmu, tapi aku tahu kamu itu sebenarnya orang yang baik. Kau telah menolongku tadi. Terima kasih banyak.” Terusnya.
Laki-laki itu menatapnya dengan kebingungan. Ia tahu apa alasannya mengapa seperti itu. tidak ada orang yang mau berteman dengannya sehingga jawaban terima dalam pertemanan pasti jarang terdengar.
“Sebagai manusia memang harus saling menolong.” Kata laki-laki itu lalu tersenyum senang.
“Sekali lagi terima kasih.”
“Aku juga berterima kasih karena mengataiku baik. Rata-rata orang menyebutku monster, termasuk aku sendiri.”
“Kau manusia, bukan sesuatu hal yang mengerikan.” Katanya untuk mempertegas.
“Maaf, apa katamu?” tanya laki-laki itu tidak yakin.
“Kau manusia, kau memiliki hati yang baik. Monster tidak memiliki itu.” Jawabnya.
“Mengapa kau katakana hal itu?”
“Karena aku tidak menyukai orang yang tidak menghargai dirinya sendiri.”
Keempat mata saling menatap. Sepasang yang satunya menatap dengan penuh keyakinan, sedangkan sepasang yang lain menatap dengan tidak percaya. Sekitar beberapa detik kemudian, laki-laki itu memejamkan matanya dan setetes air keluar dari dalamnya.
“Maaf, apa kau baik-baik saja?” tanyanya tiba-tiba menjadi khawatir karena teman barunya menangis.
Laki-laki itu mengusap air matanya. “Aku terharu. Kau orang yang baik. Aku tak menyangka bisa berteman denganmu.” Katanya.
Ia tersenyum manis. Lalu ia mengambil sebuah sapu tangan di dalam tasnya dan ia berikan kepada laki-laki itu untuk mengusap air mata kebahagiaan itu. Tapi, tangan laki-laki itu mendorong sapu tangan itu hingga menempel di wajahnya. Diusapnya wajahnya yang masih basah karena air mata ketakutan dan keharuannya.
“Maaf, telah membuatmu takut. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Kata laki-laki itu lembut.
Ia mencengkeram erat sapu tangannya itu hingga jari-jarinya yang basah bersentuhan dengan jari-jari laki-laki itu. Dengan cepat ia menarik sapu tangannya hingga terlepas dari genggaman laki-laki itu dan menyimpannya. Tiba-tiba ia merasa malu sendiri.
“Kau bermaksud menolongku. Sekali lagi terima kasih banyak.” Balasnya lalu tersenyum kecil karena malu. Laki-laki itu membalasnya dengan senyumannya.
“Ngomong-ngomong, aku Calvin.” kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Aku Alicia.” Balasnya sambil menerima uluran tangan itu. Mereka saling berjabat tangan dan untuk kedua kalinya kedua tangan mereka saling bersentuhan.
Itu adalah awal dimana sebuah pertemanan yang selalu ia harap-harapkan sejak ia kecil. Teman. Seakan kata itu sangatlah agung sehingga ia tidak bisa membanggakannya. Sebuah kata yang sebelumnya tidak pernah ia dengar kini ia dengar selalu di kedua telinganya. Semua penderitaan masa lalunya akan kesepian lenyaplah sudah karena sebuah teman yang ia dapatkan.

Ia buka kedua matanya. Pemandangan seorang teman sudah sering ia lihat sekarang. Semuanya kesepian dan kesendirian telah berakhir sangat lama sekali. Terlebih, hubungannya yang sebenarnya adalah lebih dari teman.


Komentar